Ahlussunnah Wal Jama’ah (ASWAJA)


P r o l o g
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah sebuah organisasi kader yang menjadi salah satu elemen gerakan mahasiswa di Indonesia. PMII merupakan wadah perjuangan, kreativitas dan proses aktualisasi diri bagi semua kader, dengan catatan bahwa mereka memiliki integritas, loyalitas dan komitmen yang kuat, serta tanggung jawab yang nyata sebagai bagian dari elemen gerakan mahasiswa. Dalam setiap langkah dan geraknya (both the way to move ‘n to act), PMII tetap komitmen untuk selalu berpegang teguh pada setiap prinsip, kerangka nilai, lebih-lebih pada setiap produk hukum (AD/ART) yang dihasilkan melalui mekanisme organisasi sehingga legal secara hukum dan kuat dalam aspek legitimasinya (merupakan kesepakatan bersama sesuai prosedur organisasi). Sesuai dengan namanya, PMII mempunyai acuan prinsipil dari sumber-sumber ke-islam-an (Khususnya Islam Aswaja) dan ke-Indonesia-an (Pancasila). Dua entitas sumber prinsipil tersebut menjadi sangat penting bagi PMII, karena kedua sumber nilai tersebut sama memiliki karakteristik nilai yang universal, fundamental (mendasar) dan bersifat terbuka satu sama lainnya, bahkan bagi kemungkinan-kemungkinan dialog dengan nilai-nilai agama, keyakinan dan ideologi lainnya. Dari dua sumber acuan prinsipil tersebut (ke-Islam-an Aswaja dan ke-Indonesia-an), kita akan lebih spesifik membahas, apa itu Aswaja? Dan apakah kaitan Aswaja dengan PMII sebagai elemen pergerakan mahasiswa di indonesia tercinta ini?

ASWAJA (Ahlussunnah Wal Jama’ah)

Sejarah Singkat
Aswaja adalah sebuah aliran (Firqoh) dalam agama Islam yang lahir dari sebuah pertentangan antara umat islam waktu itu, yakni setelah berakhirnya masa kepemimpinan Rasulullah Saw. yang kemudian diteruskan pada periode Khulafah Al-Rasyidin (Abu Bakar R.a., Umar R.a., Utsman R.a. dan Ali K.w. ).

Pada akhir periode kepemimpinan Ali K.w. terjadi sebuah peristiwa besar di kalangan umat islam. Yakni peristiwa yang dikenal dengan “Perang Shiffin” (th. 37H), perang yang melibatkan pihak Ali K.w. sebagai Khalifah pada waktu itu dengan pihak Muawiyah bin Abi Sufyan R.a. (sebagai salah satu kelarga dekat Sahabat Utsman Bin Affan Ra.). Perang ini pada akhirnya berakhir dengan proses arbitrase (perdamaian) yang dikomandani oleh Amr Bin Ash yang mengangkat Mushhaf Kitab Suci Al-Qur’an di tengah-tengah kedua belah pihak yang berperang, Peristiwa ini dikenal dengan istilah Tahkim (Ishlah). Peristiwa ini juga melahirkan kelompok Khawarij (kelompok yang keluar dari Kelompok Ali Ra. Karena tidak sepakat dengan keputusan Ali Ra. Yang mau berdamai dalam perang Shiffin).

Satu abad berikutnya, timbul golongan Mu’tazilah di bawah bendera kepemimpinan Washil bin Atha’ (80-113 H) dan Umar bin Ubeid (w. 145 H). Kaum ini mengeluarkan fatwa yang ganijl dan tentu saja bertolak belakang dengan i’tikad Nabi SAW, diantaranya; mereka meyakini adanya manzilah bainal manzilatein, yakni tempat diantara dua tempat (surga dan neraka), mereka juga meyakini bahwa sifat Tuhan tidaklah ada, bahwa mi’rajnya Nabi SAW sekedar roh saja dan bahwa Al-Qur’an itu makhluk.

Menyusul berikutnya paham Qadariyah yang menyatakan bahwa manusia punya otoritas penuh atas dirinya sendiri, dengan kata lain Tuhan sama sekali tidak terlibat dalam urusan manusia, sebaliknya muncul paham Jabariyah yang i’tikadnya bertolak belakang dengan Qadariyah, artinya manusia sama sekali tidak punya ikhtiar dan usaha, karena Allah SWT memang telah menciptakan skenario sedemikian rupa.               Tidak hanya sampai di situ ada juga paham Mujassimah, yang menyerupakan Tuhan dengan makhluk, misal: Tuhan itu punya kaki, tangan dan duduk di atas kursi, atau juga paham Ibnu Taimiyah yang “agak berlainan” mengenai ziarah kubur, tawasshul dan istighatsah. Abad berikutnya (abad ke-3 H), sebagai respon dari banyaknya golongan (firqah) itu, timbullah golongan

Ahlus-Sunnah wal Jama’ah.
Bisa dikatakan bahwa ideologi Ahlus-Sunnah wal Jama’ah ini lahir dari proses dialektika, sebab dengan banyaknya paham dan aliran yang berkembang saat itu, dirasa perlu adanya jalan tengah (middle path) agar kaum muslimin (terutama yang masih awam) tidak terjerumus ke dalam kesesatan (akidah). Hal ini sedianya tidak lantas bermaksud memberikan stigma atau juga konotasi bahwa paham Ahlus-Sunnah wal Jama’ah hanya pantas “dikonsumsi” oleh orang-orang awam belaka.

Di sinilah, bermunculan berbagai kritik miring dan inisiasi negantif bahwa paham Ahlus-Sunnah wal Jama’ah justru menghegemoni pengikutnya untuk kritis dan menggunakan daya nalar yang jernih dalam memahami akidah. Dalam hal ini, tidak sedikit golongan-golongan yang justru terjebak dalam fanatisme-sektarian yang sempit, sehingga menuding-nuding golongan yang lain keliru, sesat dan sebagainya (Truth Claim).

Firqoh (golongan) Ahlussunnah wal Jama’ah dikembangkan pertama kali oleh ‘Alimul ‘allamah Abu Hasan Al-Asy’ari (260-324 H), sebagai seorang ulama’ yang mempunyai kapasitas intelektual di bidang aqidah (Ushuluddin) dan mempunyai perhatian terhadap kondisi sosio-religius masyaraktnya pada waktu itu, yang dihegemoni (terkekang) oleh golongan Mu’tazilah yang menjadi firqoh resmi negara, pada masa pemerintahan Al-Ma’un dari diansti Abbasyiah di Irak dan sekitarnya.

Dengan demikian, acuan utama golongan Ahluss-sunnah wal Jama’ah ini adalah :

1.      Bidang Aqidah (Tauhid)       :
Mengacu pada pandangan-pandangan atau pemikiran Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansyur Al-Maturidy (333 H).

2.      Bidang Fiqh (Syari’at)          :
Mengacu pada rumusan-rumusan fiqh (hukum islam) Madzhab yang empat, atau dikenal dengan Madzahibul Ar-Bi’ah, yakni Madzhab Imam Syafi’i, Hanafi, Hanbali dan Maliki.

3.      Bidang Tasahawwuf :
Mengacu pada konsep-konsep tashawuf-nya Hujjatul Islam Al-Imam Al-Ghazaly dan Imam Juneid Al-Baghdady.

BER-ASWAJA DI PMII
Dengan tetap komitmen terhadap prinsip Al-Muhafadzatu ‘alal-Qadimisshalih Wal Akhdzu Bil Jadidil-Ashlah, yang artinya “Menjaga/memelihara hal-hal lama yang baik, dan mengambil/mencari (discover) hal-hal baru yang lebih baik”. Dengan prinsip (yang populer di kalangan Nahdhiyyin) ini, PMII tegas untuk selalu memiliki sikap dan main-stream gerakan yang menjunjung tinggi nilai-nilai universal (humanisme), dinamika kemasyarakatan (sosio-kultural) dan selalu kritis pada setiap perkembangan dan realitas yang terjadi di lingkungan mikro, maupun makro masyarakat indonesia.

Mengenai akuntabelitas (keajegan) Aswaja dalam konteks korelasinya dengan islam, Fajrul Falakh dalam buku penjelasan tentang NDP PMII, dia berasumsi bahwa Dalam upaya memahami, menghayati dan mengamalkan Islam tersebut, PMII menjadikan Aswaja sebagai Metoda, Aswaja dalam pengertian metoda tersebut adalah seperti ditegaskan Nabi Muhammad Saw.  “Ma Ana Alaihi Wa Ash-Haby“, artinya Aswaja memiliki karakter seimbang dalam berbagai aspek. Oleh karena itu, PMII meyakini bahwa Aswaja adalah pendekatan yang terbaik dalam membuktikan dan mengamalkan kebenaran Islam.

Lebih praksisnya, PMII memiliki versi sendiri mengenai poin-poin prinsip Aswaja sebagai acuan nilai ke-Islam-an dalam setiap sikap dan main-stream gerakannya. Poin-poin prinsip tersebut adalah :

 

1.      Ta’adul/Equal (bersikap adil)           :
Dengan nilai ini, PMII mendorong setiap kadernya untuk selalu bertindak dan bersikap adil dalam setiap aspek hidup dan masalah apapun yang dihadapinya.

 2.      Tasamuh/Tolerance (bersikap toleran) :
Toleransi adalah hal yang paling kunci dalam setiap interaksi dan komunikasi dengan siapapun, karena dengan toleransi berarti kita membuka diri untuk selalu menghargai eksistensi orang lain yang mungkin berbeda dengan kita dalam banyak hal.

3.      Tawassuth/Moderat (berpikir moderat) :
Prinsip moderat merupakan nilai yang tidak bisa ditawar dalam versi PMII, karena PMII lahir untuk bisa berdiri dan bermanfaat bagi semua pihak, dalam hal ini manusia secara umum.

4.      Tawaazun/Balance (berpikir dan bersikap seimbang) :
Ke-seimbangan berpikir dan bertindak dalam segala hal adalah pintu gerbang menuju harmony kehidupan yang tidak hegemonik dan diskriminatif, tapi lebih mengedepankan sikap terbuka (wel-coming community) bagi seluruh kemungkinan adanya kritik dan perbedaan-perbadaan lainnya.
Namun demikian, prinsip-prinsip di atas tidak ada artinya ketika tidak diproyeksikan untuk mengambil peran utama dalam proses dan keberpihakan terhadap kaum-kaum marginal (terpinggirkan oleh sistem yang ada).
Maka disini dibutuhkan satu nilai lagi, yang dalam pendangan penulis sangatlah vital untuk membuktikan adanya komitmen idealisme PMII sebagai salah satu elemen Gerakan Mahasiswa di Republik Indonesia tercinta ini. Prinsip yang dimaksud adalah Prinsip At-Taghayyur Al-Ijtima’iy (transformasi-sosial), yakni komitmen untuk terus mendorong terciptanya perubahan positif bagi setiap entitas individu dan sosial masyarakat indonesia. Baik dalam aspek sosial-budaya, ekonomi, politik dan agama, yang pada akhirnya diharapkan mampu mendorong laju peradaban bangsa ini ke taraf yang lebih baik, dan terus mem-baik (good-better ‘n be the best), Amiiin!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s