Hari Guru 25 November


Setiap 25 November diperingati sebagai “Hari Guru” secara internasional, termasuk di Indonesia. Momentum peringatan ini sebaiknya juga digunakan untuk melakukan introspeksi. Artinya,   ini merupakan momentum bagi guru, pahlawan tanpa tanda jasa untuk melakukan introspeksi diri; tentang peran  guru dalam pembangunan.
Satu  bangsa merupakan komunitas besar. Baik komunitas wailayah, suku, maupun profesi.  Komunitas yang berperan dalam mengubah nasib adalah profesi. Jika dilihat dari segi profesi, terdapat berbagai profesi, misalnya ada petani, nelayan, pedagang, dokter, ahli hukum, arsitek, dan guru.  Di antara banyak profesi itu, “Siapakah yang bisa mengubah nasib bangsa?”
Jawaban pertanyaan itu, “Guru lah yang bisa mengubah nasib bangsa”. Artinya, guru sangat berperan penting dalam mengubah nasib satu bangsa.
Begitu penting dan menentukan sekali peran profesi guru dalam mengubah nasib bangsa  merupakan sebuah ekspektasi yang wajar karena guru bertugas mendidik dan mengajar anak-anak bangsa, mengubah perilaku,  membentuk karakter. Sebuah tugas yang sangat fundamental. Kalau bangsa Indonesia ingin melakukan perbaikan keadaan bangsa  Indonesia di masa datang, harapan itu tertumpang  kepada guru, dunia pendidikan.


Pertanyaan berikutnya tentu adalah apakah setiap personal guru (di Indonesia guru PNS berjumlah hampir 1,4 juta orang) akan mampu atau telah mampu mnengubah nasib bangsa? Atau, guru yang manakah yang akan mampu mengubah nasib bangsa?
Jawabannya dapat dilihat dalam Undang-Undang  nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, yaitu “guru yang profesional lah bisa mengubah nasib bangsa ini.”
Menurut undang-undang guru dan dosen terdapat beberapa persyaratan seorang guru profesional, baik kualifikasi, ataupun kompetensi. Seorang guru profesional harus berkualifikasi pendidikan minimal sarjana (S1). Sedangkan dari segi kompetensi, guru profesional harus memiliki empat kompetensi, yaitu: (1) kompetensi paedagogik, (2) kompetensi sosial, (3) kompetensi pribadi, dan (4) kompetensi profesi. Setiap kompetensi itu juga sudah jelas indikatornya.
Jika dicermati lagi pernyataan bahwa guru yang profesional yang bisa mengubah nasib bangsa, maka dapat dimunculkan lagi beberapa pertanyaan, yaitu: (1) Apakah semua guru sudah memenuhi persyaratan seperti yang  dituntut undang-undang?  Jawabannya, “Belum.” Lalu?
(2) Apakah semua guru  atau dunia pendidikan kita sudah mampu mengubah, memperbaiki nasib bangsa? Jawabannya, “Belum.” Malahan ada yang skeptis berpraduga bahwa guru, dunia pendidikan kita ikut memperburuk nasib bangsa?
Pertanyaan berikutnya, adakah korelasi  antara guru yang belum profesional dengan guru, dunia pendidikan yang belum mengubah nasib bangsa? Secara teoritis tentu pasti ada korelasi antara keduanya. Guru kita, dunia pendidikan kita belum mampu mengubah nasib bangsa menjadi lebih baik karena guru kita belum profesional. Pantas juga jika kondisi bangsa kita saat belum seperti yang dicita-citakan.
Berarti, jika kita ingin guru kita, dunia pendidikan kita  bisa mengubah nasib bangsa, maka kita harus memprofesionalkan guru-guru. Lalu, tanggung jawab siapa? Jelas itu tanggung jawab pemerintah secara kelembagaan dan tanggung jawab guru yang bersangkutan secara pribadi. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk itu. Melalui penambahan anggaran pendidikan, pelatihan bagi guru, penataan kurikulum. Termasuk, pencanangan pendidikan karakter secara nasional. Namun, upaya pemerintah itu tidak akan pernah cukup. Guru secara personal perlu menambahi upaya pemerintah tersebut.
Lalu, jika semua guru sudah profesional, apakah mereka, dunia pendidikan akan  mampu memperbaiki nasib bangsa ini.  Atau, jika guru belum profesional, mereka, dunia pendidikan tidak bisa memperbaiki nasib bangsa? Jawabannya juga belum tentu. Orang bijak menasehatkan bahwa ada satu faktor lagi yang sangat menentukan, yaitu ”keikhlasan dan idealisme” dalam berbuat.

Artinya, meskipun semua guru telah mencukupi persyaratan profesional, kalau mereka tidak memiliki keikhlasan dan idealisme dalam mengabdi, mereka juga tidak akan mampu memperbaiki nasib bangsa. Sebaliknya, meskipun belum sepenuhnya mencukupi persyaratan guru profesional, tetapi mempunyai semangat keikhlasan dan idealisme dalam mengabdi, pasti guru-guru bisa memperbaiki nasib bangsa ini. Jadi, guru yang bisa mengubah nasib bangsa adalah guru yang profesional, ikhlas dan idealis dalam mengabdi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s